Announcement

Announcement Module
Collapse
No announcement yet.

air kencing bayi lelaki

Page Title Module
Move Remove Collapse
X
Conversation Detail Module
Collapse
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • air kencing bayi lelaki

    aku tak reti sangat...
    mau tanya...

    yang aku tau, air kencing baby lelaki (pompuan tak sure), bawah 2 tahun yg fully BF, air kencing dia suci kan...
    tak perlu la alir kan air.. memadai kita lap jer...
    kalo silap, minta betulkan ya...

    tapi, macam baby aryan, dia fully formula milk...
    so dia termasuk tak?

  • #2
    Re: air kencing bayi lelaki

    1 – ( عَنْ أُمِّ قَيْسِ بِنْتِ مِحْصَنٍ { أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ إلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ عَلَيْهِ وَلَمْ يَغْسِلْهُ } . رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ )

    Dari Ummi Qais binti Muhsan, sesungguhnya ia pernah datang menghadap Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam dengan membawa seoang anak kecil yang belum makan (makanan), lalu ia kencing di pakaian Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam, lalu Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam miminta air kemudian memercikannya diatas pakaian itu dan tidak mencucinya. (HR Jama’ah, Nailur Authar hadist no. 30).

    2 – ( وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { بَوْلُ الْغُلَامِ الرَّضِيعِ يُنْضَحُ وَبَوْلُ الْجَارِيَةِ يُغْسَلُ} قَالَ قَتَادَةَ : وَهَذَا مَا لَمْ يُطْعَمَا فَإِذَا طَعِمَا غُسِلَا جَمِيعًا . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيثٌ حَسَنٌ ) .

    Dari ‘Ali bin abi Thalib, bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: kencing anak laki-laki yang masih menyusui, cukup di perciki (air), dan kencing anak perempuan harus dicuci. Qatadah berkata : Dani ini selama mereka belum makan (makanan) maka kalau mereka sudah makan, harus dicuci, baik laki-laki maupun perempuan. (HR ahmad dan at-Tirmidzy, dan berkata at-Tirmidzy, hadist ini Hasan, Nailur Authar hadist no. 31)

    3 – ( وَعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : { أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَبِيٍّ يُحَنِّكُهُ فَبَالَ عَلَيْهِ فَأَتْبَعهُ الْمَاءَ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَكَذَلِكَ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ وَزَادَ : وَلَمْ يَغْسِلْهُ . وَلِمُسْلِمٍ { كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ فَأُتِيَ بِصَبِيٍّ فَبَال عَلَيْهِ ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَأَتْبَعهُ بَوْلَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ } )

    Dan dari ‘Aisyah, ia berkata : Telah dibawa kepada Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam seorang anak kecil yang sedang diberinya makanan, lalu anak itu mengencingi Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam, lalu Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyusulinya dengan air (HR Bukhari)

    Dan demikian juga bagi Ahmad dan Ibnu Majah serta Ibnu Majah terdapat kata tambahan “dan Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam tidak mencucinya”

    Dan dalam Shahih Muslim dikatakan, Adalah Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam dibawa kepadanya anak-anak lalu ia mendo’akan mereka, dan memberi makan kepada mereka. Lalu dibawanya seorang bayi kemudian mengencinginya, lalu Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam meminta air, kemudian menuangkannya pada tempat yang dikecinginya dan tidak mencucinya. (Nailur Authar hadist no. 32)

    4 – ( وَعَنْ أَبِي السَّمْحِ خَادِمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ } . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ ) .

    Dari Abu Samh, pelayan Rasul shalallaahu ‘alaihi wasallam, ia berkata : Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Kencing anak perempuan harus di cuci dan kencing anak laki-laki cukup di perciki (air). (HR Abu Dawud, Nasa’I, dan Ibnu Majah, Nailul Authar hadist no. 33)

    5 – ( وَعَنْ أُمِّ كُرْزٍ الْخُزَاعِيَّةِ قَالَتْ : { أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِغُلَامٍ فَبَالَ عَلَيْهِ فَأَمَرَ بِهِ فَنُضِحَ ، وَأُتِيَ بِجَارِيَةٍ فَبَالَتْ عَلَيْهِ فَأَمَرَ بِهِ فَغُسِلَ } . رَوَاهُ أَحْمَدُ ) .



    Dari Ummi Kuzin al-Khuza’iyyah, ia berkata: Pernah dibawa kepada Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam seorang anak-laki-laki lalu mengencinginya kemudian Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan (mengambil air) lalu dipercikinya, dan pernah dibawa kepadanya seorang anak perempuan lalu mengencinginya, kemdian ia memerintahkan (mengambil air) lalu dicucinya. (HR Ahmad, Nailur Authar hadist no. 34)

    Keterangan:

    Yang di maksud dengan makanan adalah makanan diluar air susu Ibu, semisal kurma, madu dan susu formula
    Hadist-hadist dalam hal ini dijadikan dalil bahwa kencing anak laki-laki hanya cukup di percikan air di tempat yang dikencingi dan bagi anak perempuan dengan menuangkan air dan mencucinya.

    Kesimpulan:

    Bahwa air kencing bayi adalah najis baik bayi perempuan maupun laki-laki, hanya saja berbeda dalam membersihkannya dengan menggunakan air, sebagaimana keterangan diatas. Wallahu’alam bishowab.

    SOS

    Menyucikan kedua najis tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:

    Najis berupa air kencing bayi/anak laki-laki yang belum mengkonsumsi makanan selain ASI, cara membersihkannya adalah dengan memerciki air pada tempat yang terkena air kencing bayi/anak laki-laki tanpa harus dibasuh dan diperas dengan tangan. Adapun jika anak tersebut sudah mengkonsumsi makanan lain disamping ASI, maka bagian yang terkena air kencingnya harus dicuci. Sementara untuk anak perempuan, maka kewajibannya adalah mencuci bagian yang terkena air kencingnya, baik dia belum mengkonsumsi makanan ataupun sudah.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    بول الغلام ينضح وبول الجار يه يغسل. (وهذا ما لم يطعما فإذا طعما غسلا جميعا

    “Kencing anak laki-laki itu dengan diperciki, sedangkan kencing anak perempuan dengan dicuci. (Hal ini dilakukan selama keduanya belum mengkonsumsi makanan. Adapun bila sudah mengkonsumsi makanan, maka harus dibasuh kedua-duanya).” (Shahih, riwayat Ahmad dalam Al-Musnad (I/76), Abu Dawud (no. 377), Tirmidzi (no. 610), Ibnu Majah (no. 525). Adapun lafazh di dalam kurung merupakan riwayat Abu Dawud (no.378))

    Najis yang mengenai bagian bawah sandal/sepatu, cara membersihkannya adalah dengan mengusap-usapkannya ke tanah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    إذا وطئ أحدكم بنعله الأذى فإن التراب له طهور

    “Jika salah seorang di antara kalian menginjak kotoran dengan sandalnya, sesungguhnya tanah itu dapat menyucikannya.” (Shahih, riwayat Abu Dawud (no. 383) dan Tirmidzi (no. 143))

    Najis yang menempel pada ujung pakaian wanita akan disucikan oleh tanah yang berikutnya, sebagaimana keterangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    يطهره ما بعده

    “Ia (ujung pakaian wanita) disucikan oleh tanah sesudahnya.” (Shahih, riwayat Ibnu Majah dalam Shahih-nya (no. 430), Malik dalam Muwaththa’ (no. 44), Abu Dawud dalam ‘Aunul Ma’bud (II/44 no. 379), Tirmidzi (no. 143))

    Najis yang mengenai lantai atau karpet, cara membersihkannya adalah dengan membuang kotorannya kemudian bekasnya disiram dengan air hingga bersih. Sedangkan untuk najis berupa air kencing, maka cukup dengan memperbanyak siraman air kepada bagian yang terkena najis tersebut. Sebagaimana perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat ketika ada seorang arab badui yang kencing di dalam masjid,

    دعوه وهريقوا على بوله سجلا من ماء أو ذنوبا من ماء فإنما بعثتـم ميسرين ولم تبعثوا معسرين

    “Biarkanlah orang itu, dan siramkanlah satu timba air atau satu ember air pada bagian yang terkena kencingnya karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberikan kesulitan.” (Shahih, riwayat Bukhari (no. 220) dan Muslim (no. 284))

    Istinja’ atau istijmar juga dapat membersihkan kedua najis (air kencing dan kotoran manusia) tersebut. Istinja’ adalah bersuci dengan menggunakan air, dan istijmar adalah bersuci dengan menggunakan benda padat, seperti batu, tissue, sapu tangan, kayu, dan semacamnya. Istinja’ terdapat tiga tingkatan, yaitu:

    Istinja’ dengan batu kemudian istinja’ dengan air. Tingkatan ini paling sempurna tanpa adanya kesulitan dan madharat.
    Istinja’ dengan air saja.
    Istinja’ dengan batu saja (istijmar), dan harus dilakukan dengan tiga batu, tidak boleh kurang. Yang lebih afdhal adalah jumlah ganjil jika batu-batu itu suci. (Ensiklopedi Shalat, I/46)

    SOS
    .................................

    Comment


    • #3
      Re: air kencing bayi lelaki

      Originally posted by gen_gurl
      aku tak reti sangat...
      mau tanya...

      yang aku tau, air kencing baby lelaki (pompuan tak sure), bawah 2 tahun yg fully BF, air kencing dia suci kan...
      tak perlu la alir kan air.. memadai kita lap jer...
      kalo silap, minta betulkan ya...
      Betul.

      Originally posted by gen_gurl
      tapi, macam baby aryan, dia fully formula milk...
      so dia termasuk tak?
      Rasa tak kot. Maybe ada yg boleh bagi pencerahan pasal ni.

      Comment


      • #4
        Re: air kencing bayi lelaki

        air kencing budak lelaki yg tak minum apa2 selain dr susu ibunya shj maka air kencingnya menjadi najis..najis yg ringan memadai sekadar dipercik dgn air utk dibasuh..najis tetap najis

        air kencing anak lelaki yg hanya menyusu susu ibunya sahaja dikira najis muhaffafah air kencing anak perempuan najis mutawassitah ..

        Comment


        • #5
          Re: air kencing bayi lelaki

          ha maksud aku suci tu bukan la suci bersih..
          betul la macam razol ckp tu.. najis ringan tu maksud aku...

          maknanya, if aryan pancut2, aku kena cuci alirkan air gak la eh

          Comment


          • #6
            susu formula dia minum maka kencingnya najis , kena jirus

            Sent from Samsung Galaxy S II (GINGERBREAD)

            Comment


            • #7
              Re: air kencing bayi lelaki

              syarat dia kene menyusu eksklusif.....

              Comment


              • #8
                Re: air kencing bayi lelaki

                NAJIS MUKHAFFAFAH (najis ringan) ialah najis kanak-kanak lelaki berusia 2 tahun dan kebawah yang hanya minum susu ibunya sahaja

                oleh itu ;

                --- kanak2/bayi perempuan yg hanya minum susu ibu,
                --- bayi lelaki yang meminum susu campuran (susuibu + susu formula)
                --- bayi lelaki yg pernah meminum susu campuran (walau hanya sekali) dan kembali meminum susu ibu sahaja,

                ketiga-tiga di atas, air kencing mereka termasuk dalam najis mutawassitah (najis pertengahan)

                cara menyucikan najis mukhaffafah ::

                cukup sekadar memercikkan air mutlak ke kawasan terkena najis.

                hikmah dijadikan najis kanak2 lelaki sebagai najis mukhaffafah ::

                kanak2 / bayi lelaki cenderung untuk mencicirkan air kencingnya merata tempat ketika proses menyalin lampin,kerana anatomy alat sulitnya yg memancutkan air kencing ketika kencing, maka ijma' ulama telah sepakat menjatuhkan hukum najis bayi lelaki sebagai mukhaffafah untuk memudahkan penyucian...disebalik itu sy percaya ada bukti saintifik mengapa hukum ini dijatuhkan kerana saya mendapati bau urine bayi lelaki dan perempuan berbeza,bau urine bayi perempuan sedikit kuat..manakal bayi perempuan pula tidak mengeluarkan kencing secara pancutan,maka ia mudah disucikan dan boleh dikawal dari mencemari merata tempat.

                Rujukan terbaik utk ini ialah kitab al-umm karya imam Syafi'ie tetapi sebagai permulaan saya syorkan ibu2 merujuk kepada kitab ASAS-ASAS FARDHU AIN karya allahyarham ustaz Sulaiman Endut.

                ____________________________________________________

                pembahagian najis ::

                mukhaffafah :: AIR KENCING kanak2 lelaki 2 tahun ke bawah yg hanya minum susu ibu sahaja.

                mutawassitah.. :: najis pertengahan , muntah darah nanah najis poo poo dsb..selain anjing,b**i (najis berat)dan selain air kencing bayi lelaki yg minum susu ibu sahaja(najis ringan)

                mughallazah :: najis berat dog pig and their keturunan..

                hukum cuci dgn wipes ::
                istinja' dlm Islam wajb guna air mutlak kerana kita Isalam kena sentiasa dlm bersih utk ibadat.
                bila guna wipes,satu perkara tak dipenuhi (air mutlak)..wipes hanya remove the najis(syarat 1 ) tapi tak guna air mutlak

                tapi baby tak de kewajipan utk ibadah so diharuskan utk wipes
                tapi jika anda nak beribadah sambil pegang baby make sure baby tu pun istinja' dgn betul

                Comment

                Working...
                X