Announcement

Announcement Module
Collapse
No announcement yet.

FANA dan ANA alHaq

Page Title Module
Move Remove Collapse
X
Conversation Detail Module
Collapse
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • FANA dan ANA alHaq

    Salam,

    Minta pandangan, penjelasan dan huraian dari kawan-kawan atau sesiapa yg berilmu.
    Adakah FANA ini sama dengan wahdatulwujud?

    Sumber: http://netlog.wordpress.com/2006/08/...pa-yang-abadi/

    F A N A



    Adanya langkah pelampauan sampai pada satu titik dimana tauhid (penyatuan) bisa dicapai, terungkap dalam pernyataan Nabi Ibrahim as. di dalam surat Al Anam yang secara metaforis diungkapkan dalam bentuk bintang, bulan, dan matahari.


    Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi, dan supaya ia termasuk orang-orang yang yakin.


    Maka tatkala malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) ia berkata, Inilah Tuhanku. Maka tatkala bintang itu hilang dia berkata, Aku tidak suka kepada yang hilang.


    Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, Inilah Tuhanku. Maka tatkala bulan itu terbenam dia berkata, Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk kepadaku niscaya aku termasuk kaum yang sesat.


    Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar! Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. ( Surah Al-Anam [6] : 75-78 )



    Bintang metafora pertama- melambangkan petunjuk atau cahaya indera seseorang yang mencari ilmu atau pengetahuan tentang kebenaran melalui sarana indera. Dahulu para pelaut menjadikan bintang-bintang di langit sebagai petunjuk arah ketika mereka berlayar. Bintang tak ubahnya seperti cahaya panca indera dalam diri manusia. Namun dengan cahaya indera ini seseorang takkan bisa mencapai kepada hakikat Ilahiah.


    Metafora kedua bulan- adalah simbol cahaya akal. Dengan akal yang dibimbing oleh petunjuk atau cahaya syariat seseorang dapat dekat pada kebenaran dan kebajikan. Dengan cahaya akal ini seseorang dapat mengungkap rahasia-rahasia Ilmu Allah, yang dapat ia buktikan dan saksikan lewat fenomena alam. Dan keadaan ini akan membawanya kepada keyakinan yang lebih jauh terhadap kebenaran, meskipun dengan cahaya ini seseorang belum juga sanggup mencapai makrifat hakiki akan Tuhan.


    Matahari metafora ketiga- melambangkan cahaya Suci atau cahaya Al Haqq yang menerangi hati manusia, sehingga seseorang yang mengalami keadaan ini memperoleh limpahan atau pelekatan sifat-sifat Allah ke dalam dirinya. Lewat cahaya Suci ini seseorang mengalami penyingkapan hati dan mata batinnya menyaksikan supremasi Tuhan dalam kekuasaan dan ilmu-Nya. Akan tetapi pada gilirannya keadaan ini menunjukkan keberagaman (katsrah). Dalam cara yang sama, keberagaman dapat dilihat pada gagasan mengenai tempat bersandar dan yang bersandar, atau pada yang Ridha dan yang diridhai. Dan ini menunjukkan adanya jarak antara keberagaman dan tauhid (kesatuan).


    Keadaan ini sebagaimana dinyatakan Nabi Ibrahim as. sendiri, Inikah Tuhanku? Pernyataan dalam bentuk pertanyaan ini muncul pada tiga waktu yang berbeda, suatu pertanyaan yang sebenarnya bertujuan untuk menyatakan pengingkaran. Maksudnya, seolah-olah Nabi Ibrahim as. berkata, Ini adalah sesuatu yang diciptakan, suka terbenam dan hilang, lalu pantaskah ia menjadi Tuhanku dan Tuhan sekalian alam? Tidak, demi Allah, ini tidaklah mungkin. Ini bukanlah Tuhanku dan Tuhan sekalian alam, tetapi ini semua perwujudan dari hakikat Tuhanku. Atau ia bisa juga mengatakan, Apakah dengan cahaya panca indera, cahaya akal, dan cahaya Suci (cahaya Al Haqq). aku akan jadi tahu Tuhanku? Tidak, demi Allah, ini tidaklah mungkin Bahkan kita takkan pernah bisa mengenal-Nya kecuali dengan melintasi dan melampaui tiga cahaya itu. Sebab tak mungkin mencapai makrifat hakiki akan dzat-Nya, kecuali dengan dzat-Nya.


    Disebutkan Nabi saw. bersabda, Aku telah mengenal Tuhanku melalui Tuhanku. Perumpamaan seseorang yang berusaha mencapai makrifat Tuhan dengan menggunakan cahaya Suci adalah seperti orang menyaksikan matahari dengan cahaya matahari. Jelas bahwa yang disaksikannya benar-benar matahari dan cahayanya yang tersebar ke seluruh penjuru arah, sekalipun penyaksiannya masih membedakan antara penyaksi (cahaya matahari) dengan yang disaksikan (matahari itu sendiri) bukan penyaksian ke-esa-an murni akan Tuhan.


    Makna mendalam yang ingin diungkapkan di sini adalah bahwa seperti halnya orang baru bisa melihat matahari dan cahayanya setelah ia menghubungkan diri dengan matahari berdasarkan kesucian dan cahaya- begitu pula, orang baru bisa menyaksikan Yang Maha Nyata setelah berupaya menjalin hubungan antara dirinya dengan Dia, dengan cara membebaskan diri dari selain-Nya dan membenarkan keagungan-Nya secara mutlak di atas semua ciptaannya.


    Ketika Allah mengungkapkan diri-Nya (tajalli) atau dzat-Nya ke dalam hati seorang hamba, maka yang diungkapkan adalah esensi-Nya, yaitu berupa nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya bukan wujud-Nya yang mutlak. Sebab wujud-Nya yang mutlak sesungguhnya tidak bersifat atau tidak terlukiskan sama sekali. Dzat-Nya adalah Wujud Mutlak, yang ke-esa-an-Nya tak lain adalah dzat-Nya sendiri, sedangkan apapun selain wujud-Nya adalah ketiadaan mutlak. Tajalli dalam bentuk nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya harus dipahami sebagai keadaan dimana wujud-Nya memberi identitas atau memberi sifat kepada esensi-Nya. Sehingga lewat nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya itu Dia dapat disaksikan. Jadi Esensi menjadi tumpuan atau pijakan Wujud. Dengan kata lain, pengungkapan ke-esa-an Allah ke dalam hati seorang hamba, adalah pengungkapan diri Yang Maha Nyata dari kehadiran ke-esa-an dzat-Nya yang mutlak tanpa ada sifat atau lukisan apapun yang dapat melukiskannya- ke kehadiran ke-esa-an-Nya yang terlukiskan oleh sifat-sifat dan nama-nama-Nya sebagaimana Dia informasikan di dalam Al Quran dan Sunnah. Coba perhatikan dengan baik kalimat terakhir ini, karena dengan memahami ini akan memudahkan pemahaman kita selanjutnya.


    Pengungkapan diri-Nya ini juga menandai munculnya sifat-sifat mengetahui dan menerima dari-Nya, sebab berbagai hakikat (di dalam ilmu-Nya) yang tersembunyi di balik ke-esa-an dzat-Nya yang mutlak, merupakan obyek pengetahuan-Nya, dan yang menerima pelimpahan wujud ke alam nyata (fenomenal) dimana hati seorang hamba mengalami penyingkapan (kasyf).


    Gambaran keadaan ini dapat kita lihat dalam surat Al Arf [7] ayat 172,


    Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menjadikan keturunan Bani Adam dari tulang sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas diri (nafs) mereka, Bukankah Aku ini Rabb (Tuhan)-mu?. Mereka menjawab, Betul, kami menjadi saksi. Yang demikian supaya kamu tidak mengatakan di hari kiamat, Sesungguhnya kami lalai tentang hal ini.


    Inilah keadaan dimana jiwa (nafs) menyaksikan kehadiran-Nya (Rabb), yang adalah bentuk-bentuk rasional dari nama-nama-Nya atau kehadiran ke-esa-an-Nya yang tersifati oleh nama-nama-Nya. Sebagaimana kita tahu kata rabb mengacu pada pengertian; pencipta, pengatur, pemelihara dan pendidik. Dengan demikian, hakikat-hakikat di dalam ilmu-Nya yang tadinya tersembunyi di balik ke-esa-an dzat-Nya yang mutlak (di alam non-eksistensi) kemudian aktual dan mewujud dalam alam fenomenal.


    Namun demikian, sekali lagi, keadaan ini menunjukkan jiwa (nafs) yang menyaksikan lewat mata hati yang mengalami penyingkapan (kasyf), dan bukan kemusnahan (fana) di dalam-Nya. Begitu pula apa yang disaksikan adalah, kehadiran ke-esa-an-Nya dalam perwujudan-perwujudan yang beragam (sifat-sifat dan nama-nama-Nya), dan bukan kemanunggalan dan kemandirian dzat-Nya yang mutlak (hilangnya selubung-selubung kemegahan Ilahi dan kekuasan-Nya, atau yang dalam istilah Mulla Shadra disebut, Perbedaan Wujud kembali kepada persamaannya).


    Semua yang ada di bumi ini akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Surat 55 : 26-27)


    Kemusnahan (fana) di dalam-Nya, diisyaratkan di dalam surat Al Arf [7] ayat 143, yang secara metaforis diungkapkan dengan pecahnya bukit dan pingsannya Nabi Musa as.


    Dan tatkala Musa datang untuk (munajat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan, dan Tuhan berkata-kata dengannya, Musa berkata, Ya Tuhanku, perlihatkanlah (diri-Mu). Tuhan berfirman, Kamu tidak sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya, maka nanti kamu akan dapat melihat-Ku. Maka setelah Tuhan memperlihatkan (kebesaran) diri-Nya di bukit itu, Allah menjadikannya pecah dan Musa jatuh pingsan. Setelah Musa sadar kembali, dia berkata, Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama-tama beriman.


    Ketika Allah memperlihatkan kebesaran-Nya di bukit itu, ini mengungkapkan kehadiran ke-esa-an-Nya dalam sifat-sifat dan nama-nama-Nya (perwujudan yang beragam) yang dapat disaksikan oleh hati yang mengalami penyingkapan. Dan saat bukit itu pecah (Allah yang menjadikannya pecah), itu menunjukkan musnahnya selubung kebesaran-Nya, kembalinya keragaman kepada ketunggalan dan kemandirian dzat-Nya yang tak bersifat atau tak terlukiskan. Dzat-Nya adalah Wujud Mutlak, dan ke-esa-an-Nya tak lain adalah dzat-Nya itu sendiri, sedang selain wujud-Nya hanyalah ketiadaan. Bersamaan dengan itu pingsanlah Nabi Musa as. Pingsannya Nabi Musa adalah simbol dari kemusnahan jiwa, bukan kemusnahan aktual melainkan kemusnahan dalam makrifat. Sirna di dalam dzat-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis Nabi saw. : Matilah kamu sebelum datang kematian-mu. Dan inilah yang dimaksud dengan fana di dalam diri-Nya.


    Dan ketika Musa as. kembali terjaga, setelah mengalami keadaan di atas, sadarlah ia bahwa apa yang selama ini ia pahami tentang hakikat Allah, apa yang sebelum ini ada dalam pikirannya tentang wujud-Nya yang mutlak, bukanlah hakikat dzat-Nya yang sesungguhnya. Mahasuci Dia dari segala apa yang disifatkan dan dilukiskan, karena dzat-Nya tidak dapat dilukiskan, Dia bukan ini, bukan itu, bukan apa pun yang bisa dibayangkan.


    Fana di dalam dzat-Nya yang Maha Mutlak, adalah maqam penyingkapan Esensi Hakiki, penyingkapan seseorang dari selubung-selubung kemegahan dan kekuasaan-Nya, dan hilangnya segala selubung selain Tuhan. Mereka yang berada pada maqam ini adalah mereka yang melampaui penyaksikan kehadiran Allah dalam perwujudan-perwujudan beragam. Tidak ada sesuatupun kecuali Dia. Semua adalah Dia, karena Dia, dari Dia, dan kepada-Nya. Tanda kemusnahan di dalam diri-Nya, adalah kukuhnya seseorang di dalam maqam istiqomah (keteguhan) dan maqam tamkn (keajegan), sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya,

    Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang telah taubat bersama kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Surat Huud [11] : 112)

    Ada perbedaan antara manusia yang terus mengada dengan dirinya sendiri dengan manusia yang telah luluh di dalam diri Tuhannya.


    Akhirnya, sampailah bagi saya untuk menghentikan pembahasan mengenai keadaan fana ini, dan saya berharap semoga Allah membukakan hati dan pikiran kita semua untuk dapat menerima limpahan ilmu-Nya yang bermanfaat. Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana. Dialah yang mengatakan kebenaran dan menuntun ke jalan yang benar. (Laut itu tetaplah laut yang sebelumnya; kejadian hari ini hanyalah ombak dan gelombang air)
    ------

    Komen penulis ttg ana al Haq

    [Tanya]

    Saya kemarin membaca bukunya rumi, judul pastinya lupa tapi isinya tentang puisi-puisi harian dari rumi selama satu tahun/12 bulan. Lalu ada puisi yang saya interpretasikan sendiri seperti ini:
    Hallaj berkata “ana al haq”, Fir’aun pun berkata “ana al haq”, satu kata dua makna. Betulkah?

    lalu saya juga tertarik dengan fenomena syeh siti jenar, yang katanya jadi Hallajnya indonesia, betulakah dia yang mengatakan konsep manunggaling kawula gusti? kalo tidak salah konsep ini juga diakui oleh penganut kejawen?

    [Jawab]

    Mungkin puisi Rumi yang dimaksud adalah yang ada dalam bukunya ‘Fihi ma Fihi’ ini:
    “When Hallaj’s love for God reached its utmost limit, he became his own enemy and naughted himself.

    He said, “I am Haqq,” that is, “I have been annihilated; God remains, nothing else.”
    This is extreme humility and the utmost limit of servanthood. It means, “He alone is.”

    To make a false claim and to be proud is to say, “Thou art God and I am the servant.” For in this way you are affirming your own existence, and duality is the necessary result. Hence God said, “I am God.” Other than He, nothing else existed.

    Hallaj had been annihilated, so those were the words of God.
    Pharaoh said, “I am God,” and became despicable. Hallaj said “I am Haqq,” and was saved.

    That “I” brought with it God’s curse, but this “I” brought His Mercy, oh friend! To say “I” at the wrong time is a curse, but to say it at the right time is a mercy.
    Without doubt Hallaj’s “I” was a mercy, but that of Pharaoh became a curse. Note this!
    (William C. Chittick, Fihi ma Fihi, in ‘The Sufi Path of Love: The Spiritual Teachings of Rumi’, pp. 191-193)

    Pertama-tama, saya sendiri berpendapat bahwa tidak mungkin Allah secara total akan ’sudi’ bersatu seratus persen dengan makhluk. Ini sudah tentu sesuatu yang mustahil. Hanya saja, saya mengamati bahwa banyak hal yang perlu ditelaah lebih dalam mengenai persoalan ini.

    Kedua, saya sama sekali bukan orang yang memahami persoalan ini. Hanya saja saya pernah sedikit ‘kutak-katik’ tentang ‘Al-Haqq’ dan mungkin bermanfaat jika saya share di sini.
    Tentang puisi tersebut dan terjemahannya

    Umumnya orang membaca kutipan puisi tersebut, yang (sayangnya) umumnya hanya mencantumkan kalimat ke dua saja. Kutipan yang sangat umum mengenai puisi tersebut pada buku-buku di Indonesia (sayangnya) hanyalah sepotong ini saja, ditambah dengan kualitas terjemahan yang tidak akurat:

    “Fir’aun berkata “Akulah Tuhan,” dan celakalah ia.
    Hallaj berkata “Akulah Tuhan,” dan selamatlah ia.”

    Padahal dalam Fihi Ma Fihi, potongan ini justru diterangkan oleh alinea sebelumnya.
    Chittick, di buku aslinya, mencantumkan terjemahan puisi Rumi dari bahasa Persia dengan cukup akurat. Tapi ketika buku Chittick tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kalimat berikut ini:

    Pharaoh said, “I am God,” and became despicable.
    Hallaj said “I am Haqq,” and was saved.
    diterjemahkan menjadi:
    “Fir’aun berkata “Akulah Tuhan,” dan celakalah ia.
    Hallaj berkata “Akulah Tuhan,” dan selamatlah ia.”

    Terjemahan ini saya kutip dari buku William C. Chittick, ‘Jalan Cinta Sang Sufi: Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi’, Edisi Baru Cetakan Keempat, Penerbit Qalam, Mei 2002; yang menerjemahkan buku ini dari buku Chittick edisi bahasa Inggris di atas.

    Sayang sekali kata terjemahannya adalah “Akulah Tuhan,” padahal kata-katanya adalah “Ana’l Haqq”, dan Chittick menerjemahkan ke bahasa Inggris dengan lebih akurat, ‘I am Haqq’. Beberapa penerjemah bahasa Inggris lain kadang menerjemahkan dengan ‘I am The Truth’. Oleh penerjemah ke bahasa Indonesia, sayang kata-katanya berubah jauh menjadi ‘Akulah Tuhan.’

    Mungkin karena umumnya orang tidak membacanya secara lengkap, maka ini menimbulkan kebingungan pada mereka yang hanya membaca sepotong ini saja. Padahal Rumi telah menerangkan apa maksud kata-kata Mansur Al-Hallaj tersebut pada alinea sebelumnya (dan pada banyak puisi Rumi lainnya).

    Sendainya kita membaca dengan teliti alinea sebelumnya, maka sedikit banyak akan kita dapatkan perbedaan maupun ‘kisi-kisi’ makna ‘Ana’l Haqq’ yang dikatakannya, yaitu (dalam alinea sebelumnya) “aku sesungguhnya tidak ada, hanya Allah yang eksis, tiada yang lain.” Ini menegaskan bahwa kesejatian hanyalah Allah saja, dan tidak ada yang sejati, yang benar-benar tidak ada hubungan sebab-akibat dengan apapun, selain Allah.
    Sebuah kenyataan yang agak disayangkan, bahwa di Indonesia hampir semuanya menerjemahkan “Ana Al-Haqq” dari Hallaj serta-merta menjadi “Akulah Tuhan.” Padahal dia tidak mengatakan “Ana Rabb,” atau “Ana ‘Llah.” Jarang yang menerjemahkannya menjadi “Aku Al-Haqq”, sebagaimana adanya.
    Sedangkan Fir’aun, ia memang mengatakan “Ilah”, ia adalah ilah yang patut disembah kaumnya, sebagaimana diabadikan Al-Qur’an surat 28:38,
    “Yaa ayyuhal malaa’u maa ‘alimtulakum min ilaahi ghairii.”

    Ada perbedaan yang sangat besar di antara perkataan mereka yang mengatakan diri sebagai Al-Haqq dan sebagai Ilah.
    Dengan demikian, dengan segala keawaman maupun keterbatasan pengetahuan saya, rasanya saya mempercayai bahwa Hallaj tidak sedang mengatakan “akulah Allah”.

    Al-Haqq
    Apakah ‘Al-Haqq’ itu? Al-Haqq adalah satu nama Allah, tepatnya nama-Nya yang ke lima puluh dua, dari sembilan puluh sembilan nama-nama indah-Nya yang Dia izinkan untuk manusia ketahui.
    Sebagaimana diterangkan di Qur’an pula, “Haqq” adalah kebalikan dari “Batil” (2:42, 8:8, 17:81, 21:18, 34:49, 47:3).
    Tidak hanya Hallaj, Al-Qur’an pun mengatakan bahwa para Rasul membawa Al-Haqq (Q.S. [7]: 53):
    “Qad jaa’at rusulu rabbina bi Al-Haqq”, telah datang rasul-rasul Rabb kami dengan Al-Haqq.
    Sedangkan pada Q.S.[10]:35 dikatakan bahwa Allahlah yang memberi petunjuk kepada ‘Al-Haqq’:
    “Qulil ‘Laahu yahdi lil-Haqq”, Allahlah yang memberi petunjuk kepada Al-Haqq.

    Dengan data-data itu, rasanya saya pun akhirnya ‘terpaksa’ mengakui bahwa siapapun dapat memperoleh ‘Al-Haqq’, jika ditunjuki-Nya.

    Dan, juga dari data-data itu, rasanya saya percaya bahwa ‘Al-Haqq’ bukan berarti ‘Allah’. Ini dua hal yang berbeda. Allah tidak otomatis sama dengan Al-Haqq, tapi Allah yang menunjuki siapapun kepada Al-Haqq.

    Jadi rasanya (ini pendapat saya, kesimpulan sementara dan liar saja, sangat mungkin salah) bahwa Hallaj memaksudkan bahwa ‘dalam diriku ada Al-Haqq’, atau ‘Aku hanyalah salah satu tanda Al-Haqq’, atau mungkin juga ‘Aku adalah tanda kesejatian/kebenaran’.
    Saya tidak tahu persis apa makna perkataannya, tapi yang jelas dari data-data tersebut, rasanya dia tidak sedang mengatakan bahwa “Sayalah Allah”, sebagaimana banyak yang disalah artikan oleh masyarakat umum.
    Syaikh Siti Jenar

    Demikian pula mengenai kata-kata Syaikh Siti Jenar. Saya benar-benar tidak mengetahui apapun tentang beliau, dan kata-katanya “Manunggaling Kawulo gusti”.
    Tapi yang saya pahami, jika kita banyak meneliti serat-serat suluk jawa, jika diperhatikan selalu ada dua ‘gusti’, yaitu Gusti dengan G kapital dan ‘gusti’ dengan G biasa.

    Dalam tradisi puisi sufi, Gusti, atau Raja dengan huruf besar menyimbolkan Allah. Sedangkan ‘gusti’, atau ‘tuan’ dengan huruf kecil, menyimbolkan jiwa yang telah suci dan tenang (nafs muthma’innah) yang memimpin dan menjadi tuan bagi sang raga untuk menuju Allah.

    Sependek pengetahuan saya, rasanya saya cukup yakin bahwa ‘gusti’ pada ajaran Siti Djenar adalah gusti dengan g kecil.

    Demikian menurut pendapat saya. Mungkin ada sahabat yang lebih mengetahui tentang persoalan ini? Silahkan.

    Yang benar dari Allah semata, dan jika ada kesalahan itu semata-mata karena keterbatasan saya.

    sumber: http://netlog.wordpress.com/category...haqq%e2%80%99/

  • #2
    Re: FANA dan ANA alHaq

    salam;

    susah sangat ke Islam nie? Susah sangat ke nak mengenal Allah? Susah sangat ke nak masuk syurga sampai kita kena faham dan hayati Islam dalam falsafah yang berbelit2.

    tj

    Comment


    • #3
      Re: FANA dan ANA alHaq

      Originally posted by Tok Janggut View Post
      salam;

      susah sangat ke Islam nie? Susah sangat ke nak mengenal Allah? Susah sangat ke nak masuk syurga sampai kita kena faham dan hayati Islam dalam falsafah yang berbelit2.

      tj


      Setuju dgn saudara TJ... Kalau semuanyer kiter dah selesai pelajari dan memahami dgn baik, adakah "rahmat" Allah SWT akan kiter perolehi?...

      Jgn begitu... jgn terfikir begitu... walaupun sudah tertulis dilauh mahfus hanya tinggal sehasta ataupun sejengkal lagi kiter akan memasuki syurga Allah namun jika tidak kerna rahmat dariNya belum tentu lagi kiter akan bisa ke sana...

      Wallahu a'lam bisshawab.

      Comment


      • #4
        Re: FANA dan ANA alHaq

        Humairah, artikel tu sendiri dah tak kena dengan kaedah yang betul dalam membincangkan agama, lebih-lebih lagi dalam bab aqidah...

        cuba tengok dalil-dalil al-Quran yang dibawa, kemudian ditafsir sesuka hati dengan akal malah ada yang ditafsir dengan sokongan penulisan kuffar!

        mana kata-kata sahabat? mana kata-kata tabi'in? mana kata-kata tabi'ut tabi'in? mana kata-kata ulama' ASWJ? paling penting, mana sabda Nabi SAW?!

        "ALLAH mengkehendaki kemudahan bagi kalian dan tidak mengkehendaki kesulitan bagi kalian." (Al-Baqarah : 185).

        "Permudahkanlah dan jangan persulitkan. Gembirakanlah dan jangan menakutkan." (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

        -----

        aku cadangkan baca buku yang mudah kita faham, straight forward:



        buku ni aku baru jumpa bulan lepas, bila start baca susah nak letak... mudah sangat nak faham sebab dia guna kaedah soal dan jawap. aku guna buku ni untuk ajar bini aku



        buku ni pulak terangkan apa keutaman kita bila belajar agama, apa cabaran masakini dan cara nak hadapi cabaran tu.

        harga tak sampai RM15 pun.

        Kedai Online: http://belajaragama.lot.my/

        Facebook Page: http://www.facebook.com/Mudah.Belajar.Agama

        wassalam.
        Last edited by trew; 14-05-11, 09:35 AM.

        Comment


        • #5
          Re: FANA dan ANA alHaq

          trew: mintak tajuk buku2 tu... gambar attachment tak kelihatan

          Comment


          • #6
            Re: FANA dan ANA alHaq

            Pegi je kedai online tu. Siap ada ulasan ringkas buku.

            Wassalam.

            ---------- kemaskini 15-05-11 08:02 PM ----------

            Pegi je kedai online tu. Siap ada ulasan ringkas buku.

            Wassalam.

            Comment


            • #7
              Re: FANA dan ANA alHaq

              Originally posted by Tok Janggut View Post
              salam;

              susah sangat ke Islam nie? Susah sangat ke nak mengenal Allah? Susah sangat ke nak masuk syurga sampai kita kena faham dan hayati Islam dalam falsafah yang berbelit2.

              tj
              Terus terang saya cakap sy masih tak kenal ALLAH.....kalau tak takkan la sy rasa sgt berat bila nak solat(masih tunaikan solat tp dengan perasaan berat...)
              Kalau ikut sebelum ini saya pernah dengar/baca "percaya Allah itu dimana2 itu jatuh hukum KAFIR sbb dalam Quran Allah sendiri nyatakan istiwa` di Arasy"
              So boleh cakap iman sy tersangat longgar sbb awaludin makrifatullah....rukun iman yg pertama.

              Comment


              • #8
                Re: FANA dan ANA alHaq

                Originally posted by Humairah View Post
                Terus terang saya cakap sy masih tak kenal ALLAH.....kalau tak takkan la sy rasa sgt berat bila nak solat(masih tunaikan solat tp dengan perasaan berat...)
                Kalau ikut sebelum ini saya pernah dengar/baca "percaya Allah itu dimana2 itu jatuh hukum KAFIR sbb dalam Quran Allah sendiri nyatakan istiwa` di Arasy"
                So boleh cakap iman sy tersangat longgar sbb awaludin makrifatullah....rukun iman yg pertama.
                salam

                Kenali Allah bukan dengan ZatNya... tetapi kenali dengan kebesaranNya. Bila kita melihat kebesaranNya, kita dapat saksikan kekuasaannya maka kita bertasbih, bertahmid bertakbir dengan sebenar2 rasa kekaguman.

                Ketahui Allah dengan RahmatNya yang memberikan kita rezeki dan menghindarkan kita dari neraka dan memasukkan kita ke syurga


                Ini kaedah kenal Allah. Jgn salah faham makrifatullah itu dengan cara yang terlalu kompleks. Baca ali Imran 190-191. Itulah kaedah mengenal Allah

                wallahualam
                tj

                Comment


                • #9
                  Originally posted by Humairah View Post
                  Terus terang saya cakap sy masih tak kenal ALLAH.....kalau tak takkan la sy rasa sgt berat bila nak solat(masih tunaikan solat tp dengan perasaan berat...)
                  Kalau ikut sebelum ini saya pernah dengar/baca "percaya Allah itu dimana2 itu jatuh hukum KAFIR sbb dalam Quran Allah sendiri nyatakan istiwa` di Arasy"
                  So boleh cakap iman sy tersangat longgar sbb awaludin makrifatullah....rukun iman yg pertama.
                  salam,
                  nak tambah sket,

                  kalu nak faham yg nie kene berguru face to face. samaada membaca dari buku atau internet nie hanya mengundang lebih banyak kekeliruan atau salah faham. aku dulu pun dah terjebak, bila fikir dalam-dalam, maka aku tinggalkan.

                  membaca itu boleh, tp kene ada guru terlebih dahulu. pada aku, seorang guru itu telah dianugerahkan kelebihan oleh allah, untuk memahami, menghalusi dan menjiwai persoalan anak muridnya. kelebihan yg tiada pada makhluk lain.

                  ada masanya kita keliru, akan tetapi kita gagal untuk mencari dan menjelaskan kekeliruan atau persoalan yg ada dalam diri ini. hanya guru sahaja yg boleh membantu kita untuk merungkainya.

                  hanya menjadi persoalan sekarang, dimana guru itu dan bagaimana untuk mengenalnya.

                  Comment


                  • #10
                    Re: FANA dan ANA alHaq

                    Artikel humairah tu mcm artikel berkaitan pandangan orang2 sufi. Ada banyak kontroversi berkaitan 'ana al haqq' ini. Ada yg berpandangan sbg ini adalah statement 'the upmost humility'. Saya kurang pasti. Walaupun saya suka membaca buku-buku kesufian, tapi saya tak recommend it to the general population. Lebih baik jika humairah membaca buku buku agama yg lain.

                    Comment


                    • #11
                      Re: FANA dan ANA alHaq

                      Sebenarnya buku sufi pun saya tak baca....kitab2 ibnu Taimiyah @ Salafi pun saya tak baca....cuma kadang2 baca artikel2 ringkas masing2 je....

                      Cuma kadang2 bila baca artikel/ceramah yg sesatkan Ibnu Taimiyah dan juga segolongan yang sesatkan majoriti sufi...sy jd fening..itu je...

                      Sekarang sy baca buku motivasi dr org Kristian= ada quote bible (agama lain) pulak....
                      Last edited by Humairah; 23-05-11, 12:11 PM.

                      Comment


                      • #12
                        Re: FANA dan ANA alHaq

                        Ada pihak yg sesatkan ibnu tamiyah juga ke? Bukankah ibnu tamiyah aliran salafi yg cuba sedaya upaya untuk mengembalikan ajaran seperti di zaman rasulullah dan sahabat? Kalau ada pun kritikan terhadap ibnu tamiyah, ini kerana beliau seorang literalist, tapi sangat x benar pandangan yg mengatakan bahawa dia sesat.

                        Search google tentang perbincangan ibnu ataillah dan juga ibnu tamiyah. A good read
                        Last edited by sol_badguy; 23-05-11, 09:01 PM.

                        Comment


                        • #13
                          Re: FANA dan ANA alHaq

                          islam mula dengan aqidah..

                          kalau aqidah benar, insha Allah, yang lain terasa mudah.

                          kitab ushul tsalasah pon sangat bagus.

                          Comment


                          • #14
                            Re: FANA dan ANA alHaq

                            Originally posted by Kuro-Obi View Post
                            islam mula dengan aqidah..

                            kalau aqidah benar, insha Allah, yang lain terasa mudah.

                            kitab ushul tsalasah pon sangat bagus.
                            Boleh bg tips tak camne kita leh double cek aqidah kita dah benar atau tak.....

                            Tip maksudnya simple2 dan tak berbelit la kan?......

                            Comment


                            • #15
                              Re: FANA dan ANA alHaq

                              ^ tips kena tanya yang lebih pakar lah .. tanya TJ ...

                              Comment

                              Working...
                              X